HABIT DAN MOTIVASI

Ingin Sukses? Ketahuilah 4 Aturan Merubah Kebiasaan/Habit Part 1

Photo by Cata on Unsplash

Hay guys, apa kabar kalian hari ini? Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT ya, kali ini aku akan membahas kelanjutan artikel sebelumnya, link artikelnya di bawah ini.

Seperti yang aku tuliskan diartikel sebelumnya, aku beberapa waktu belakangan ini membaca sebuah buku yang berjudul Atomic Habits yang isi dari buku tersebut sangat berkesan, nah pada kesempatan ini aku akan melanjutkan pembahasan mengenai buku tersebut.

Seperti yang sudah kita pelajari sebelumnya, ada empat langkah pembentukan habit yaitu cue, craving, response dan reward. Masing-masing law/aturan yang akan kita bahas berikut berkaitan dengan masing-masing langkah tersebut. Langsung saja kita bahas law yang pertama.

1st Law Make It Obvious — Jadikanlah Ia Jelas

Law yang pertama ini berkaitan dengan cara pembentukan cue (penanda) yang akan mengawali terbentuknya sebuah habit.

Everything need a time to master, to solve, to learn, to fix, or to do anything. Realize it well and make it as your conscious concern, repeat it until it become a habits so it will be your subconscious and work automatic without thinking about it. Time sense is important, master it before its too late. There are no achievement without it in the term of human effort. So, if you want to achieve something, make sure that you know, set, and use your time properly. ~ Gurunda

Sadarilah habit kamu

Salah satu hal menarik tentang habit adalah kita tidak selalu sadar dengan cue (penanda awal yang memulai suatu habit).

Contoh simplenya adalah mungkin kamu tidak sadar bahwa begitu ada notifikasi pesan baru dari HP akhirnya membuat kamu menghabiskan waktu sekian menit tenggelam dalam sosial media.

Oleh karena itu langkah awal dalam membangun kebiasaan baru adalah dengan lebih sadar (aware) dengan apa yang menjadi cue dari kebiasaan selama ini. Kamu harus sadar dengan kebiasaan apa yang kamu miliki selama ini sebelum bisa mengubahnya.

Setelah menyadarinya, kamu bisa mulai mengajukan pertanyaan pada diri sendiri “Apakah kebiasaan ini menunjangku menjadi tipe orang yang aku inginkan?”, “Apakah kebiasaan ini juga menunjang kesuksesanku?”.

Teknik terbaik untuk memulai habit

Teknik 1 — Menjadikan tempat dan waktu sebagai cue

Jadikan tempat dan waktu sebagai cue (penanda) untuk memulai habit kamu. Formatnya adalah:

Aku akan [Habit yang diinginkan] saat [waktu] di [tempat]

Berikut contoh simpelnya:

  • Aku akan mulai menulis di jam 6 pagi di meja ruang kerja
  • Aku akan olahraga tiap jam 5 sore di gym dekat rumah

Teknik 2 — Menggunakan habit stacking

Yang dimaksud dengan habit stacking adalah memanfaatkan habit yang sudah dimiliki sebagai cue untuk habit baru yang ingin kamu lakukan. Format nya adalah:

Setelah aku [Habit yang sudah ada] maka aku akan [Habit yang diinginkan]

Berikut contoh simpelnya:

  • Setelah aku mandi maka akan akan push up 15x
  • Setelah aku bangun tidur dan buat kopi maka aku akan menulis selama 30 menit

Nah, itu adalah tips-tips untuk membuat cue (penanda dimulainya habit) menjadi lebih jelas. Setelah ini kita akan menggunakan lingkungan untuk memperjelas cue dari habit.

Motivation is overrated, the environment matters more

Lingkungan adalah sebuah faktor tak nampak (dan sering diremehkan) dalam pembentukan habit kita. Padahal faktor lingkungan sangatlah kuat dan sering tidak kita sadari.

Contoh simpelnya adalah ketika di rumah banyak snack yang tersedia, maka otomatis kecenderungan untuk ngemil pasti meningkat.

Oleh karena itu desainlah lingkungan sekitar untuk mendukung habit yang positif. Berikut beberapa contohnya:

  • Kalau kamu ingin lebih sering baca buku, letakkan buku di ruang keluargamu yang mudah dilihat
  • Jika kamu ingin lebih sering minum air, letakkan botol berisi air di sekeliling rumah dan tempat kerjamu

Dengan melakukan hal tersebut, berarti kamu memasang cue-cue pada lingkunganmu sebagai pertanda untuk memulai habitmu.

The secret of self-control

Banyak orang bisa menahan diri bukan karena mereka disiplin atau memang tahan godaan, akan tetapi karena mereka memposisikan diri supaya jarang tergoda. Apa maksudnya? Artinya mereka mendesain lingkungan sekitar mereka supaya tidak sering mengalami godaan.

Berikut contohnya:

  • Jika kamu merasa sulit menahan godaan untuk tidak mengecek HP, maka saat kamu butuh bekerja dan fokus, silent HP kamu dan letakkan di ruangan lain.
  • Jika kamu ingin berhenti merokok, maka hindari berkumpul dengan teman-teman sesama perokok

Dengan memposisikan lingkungan seperti itu maka kamu akan lebih jarang tergoda.

2nd Law Make It Attractive — Jadikan Ia Menarik

you are not as smart as your body works. ~ Gurunda

Law yang kedua ini berkaitan dengan craving. Craving inilah yang akan menjadi motivasi kita melakukan sebuah habit. Craving bisa terjadi karena sebuah neurotransmitter yang bernama dopamin.

Hal-hal yang bisa membuat orang sampai ingin terus melakukannya, misalnya: main video games, cek sosial media, makan junk food, adalah tindakan yang bisa diasosiasikan dengan tingginya tingkat dopamin dalam tubuh.

Satu hal menarik tentang dopamin ini adalah, dopamin dilepaskan badan tidak hanya ketika kita melakukan tindakan tersebut akan tetapi juga ketika mengantisipasinya. Ketika kamu mengantisipasi sesuatu yang menyenangkan, kadar dopamin meningkat yang diiringi dengan motivasi.

Jadi yang memotivasi dan menggerakkan kita untuk bertindak adalah antisipasi dari reward.

Jadi bagaimana penerapannya dalam proses pembentukan habit? Gunakan konsep temptation bundling berikut.

Konsep temptation bundling

Sebuah habit yang ingin kamu miliki akan menjadi lebih menarik jika disandingkan dengan hal yang memang kamu sukai. Berikut adalah contohnya:

  • Kamu harus berolah raga, dan kamu suka nonton film. Maka yang bisa kamu lakukan:
  • kamu naik sepeda statis sambil nonton Netflix di rumah

Formula temptation bundling ini adalah:

Setelah [habit saat ini], aku akan [habit yang ingin kamu miliki], setelah itu bisa [hal yang kamu sukai]

Kita bisa melihat contohnya sebagai berikut.

Contoh 1: Aku harus menulis konten, tapi aku kepingin main game. Maka ini yang bisa kamu lakukan, setelah aku bikin kopi, maka aku akan langsung menulis satu artikel, setelah itu aku bisa main game

Contoh 2: Aku harus follow up customer, tapi aku ingin cek social media.
Setelah makan siang, aku akan follow up 3 calon customer, setelah itu aku bisa cek social media selama 5 menit.

Nah, itu tadi tips pertama untuk mendatangkan craving sehingga kamu lebih termotivasi melakukan habit yang kamu ingin miliki.

Peranan keluarga dan lingkungan

Manusia adalah makhluk sosial yang hidup dalam kelompok. Dalam sejarah panjang manusia, mereka yang berhasil berkolaborasi adalah mereka yang bertahan hidup.

Hal tersebut tentunya juga mempengaruhi pembentukan habit kita. Kita cenderung mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Berikut adalah tiga group yang biasa kita ikuti.

1. Mengikuti yang dekat

Kamu cenderung mengikuti kebiasaan orang-orang yang tinggal dekat dengan kamu. Jika keluarga sekitar kamu hobi kuliner, maka niatan kamu untuk diet rasanya susah direalisasikan deh.

Oleh karena itu untuk membuat habit kamu semakin kuat, bergabunglah dengan komunitas yang memiliki kebiasaan/hobi serupa. Sebagai contoh, untuk alasan itulah aku bergabung ke book brewers, komunitas pembaca buku supaya habit membaca buku kian kuat

2. Mengikuti yang banyak

Jikalau suatu hal dilakukan banyak orang, maka melawan arus akan susah untuk dilakukan. Menjadi berbeda itu tidak mudah. Kamu akan berusaha untuk mengikuti habit yang dilakukan banyak orang.

3. Mengikuti yang kuat/powerful

Kita tertarik untuk mengikuti kebiasaan yang bisa membuat kita mendapat persetujuan, respek dan status. Ini adalah satu alasan mengapa kita tertarik mengikut habit orang-orang sukses, karena kita juga ingin sukses.

Hal yang mendasari craving dan bagaimana memanfaatkannya

Craving adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang hilang /kurang. Ada gap di antara perasaanmu sekarang dan perasaan yang kamu inginkan. Gap ini akhirnya menjadi motivitasi kamu untuk bertindak.

Craving sebenarnya adalah perwujudan spesifik dari keinginan-keinginan yang sudah ada sejak zaman dahulu.

Kita sebenarnya tidak dibentuk untuk punya keinginan mengecek facebook terus menerus, merokok atau main video game tanpa henti. Pada tingkatan yang lebih dalam, sebenarnya yang kita inginkan adalah mengurangi ketidakpastian, menghilangkan kegelisahan, diterima dan direspek orang lain dan mendapatkan status.

Jadi, habit yang kita miliki saat ini sebenarnya adalah solusi modern untuk kebutuhan/keinginan yang sudah ada sejak dahulu. Dan sebenarnya ada banyak cara untuk memenuhi kebutuhan/keinginan mendasar tersebut.

Misalnya saja kebutuhan untuk menjadi lebih tenang dan mengurasi rasa stress dan gelisah.

  • Ada orang yang memenuhi kebutuhan tersebut dengan merokok
  • Ada orang yang memenuhinya dengan makan
  • Ada orang yang memenuhinya dengan berolah raga
  • Ada orang yang memenuhinya dengan bermeditasi

Nah, jika memang seperti itu kamu berarti bisa memilih habit yang baik untuk memenuhi kebutuhan yang sama. Alihkan habit yang tidak mendukung menjadi habit yang lebih baik sambil tetap memenuhi kebutuhan.

Memprogram ulang diri untuk menikmati habit yang terasa sulit

Seringkali kita tidak berhasil menjalankan suatu kebiasaan karena merasa apa yang harus dilakukan itu susah atau ribet.

Kita bisa membuat habit-habit yang terasa susah menjadi lebih menarik dengan mengubah cara berpikir. Kita asosiakan habit tersebut dengan pengalaman yang positif.

Sebagai contoh, mungkin selama ini kamu mengasosiasikan lari pagi sebagai aktifitas yang berat dan melelahkan.

  • Kamu bisa merubah cara pandang kamu terhadap lari pagi menjadi aktivitas untuk membangun kekuatan dan menikmati udara dan suasana pagi.
  • Jadi tiap kali lari pagi, kamu bukan lagi akan berkata “Sekarang saatnya lari pagi” akan tetapi kamu akan berkata Sekarang saatnya membangun kekuatan sambil menikmati suasana pagi”.

Baiklah, di artikel kali ini aku hanya membahas 2 aturan untuk merubah kebiasaan/habit, pada artikel berikutnya aku akan melanjutkannya lagi.

Sekian dulu ya pembahasan artikel hari ini, semoga teman-teman bisa mendapat manfaat dari apa yang aku tuliskan. Bila teman-teman rasa postingan ini bermanfaat, berikan aku “claps” ya, agar aku lebih bersemangat lagi untuk menuliskan pembelajaranku mengenai banyak hal.

Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca artikel ini.

--

--

--

Data Science Enthusiast, Remote Worker, Course Trainer, Archery Coach, Psychology and Philosophy Student

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Desi Ratna Ningsih

Desi Ratna Ningsih

Data Science Enthusiast, Remote Worker, Course Trainer, Archery Coach, Psychology and Philosophy Student

More from Medium

How Journaling Can Help You in Hard Times

Class Reflection: Procrastination

A CORROSIVE FEELING.

Be an extraordinary person.