Filosofi Harapan

Photo by Marc Oliver on Unsplash

Harapan adalah selama kamu masih mau hidup berarti kamu masih punya harapan, ingin matipun itu adalah harapan, selama manusia akalnya berjalan berarti ia masih mempunyai harapan-harapan, karena apa? Karena harapan adalah bagian dari hidup kita, bagian dari pengalaman kita. Kamu sadari atau tidak, detik demi detik hidupmu adalah rangkaian dari harapan ke harapan.

Jika riwayat hidupmu ingin disusun, kisah hidupmu adalah harapan yang terpenuhi dan harapan yang tidak terpenuhi, dari itulah alur hidupmu akan berjalan. Adakalanya harapan ada hubungannya dengan rasa sakit, seseorang biasanya sadar punya harapan kalau ia terbentur dengan hidup, karna kamu tidak tahu besok harapanmu terpenuhi atau tidak, maka kamu berharap ingin sesuatu di masa depan.

Para filsuf tertentu yaitu Friedrich Nietzsche dan kawan-kawannya yang tidak terlalu suka dengan harapan, mereka mengatakan hidup itu harus kamu kontrol, harus kamu kendalikan 100% tanpa kalkulasi yang disebut harapan. Harapan berada di masa depan, hidupmu dan eksistensimu adalah kisahmu menghidupkan harapan, dalam harapan ada kepercayaan, bahwa besok masa depan yang akan datang hasilnya akan lebih baik dari pada sekarang.

Ada yang dicari, ada yang diperjuangkan, harapan menunjukan adanya yang kamu cari dan adanya yang layak kamu perjuangkan. Rancanglah harapan, buatlah harapan, kalau dalam agama islam suatu maqom dalam tasawuf yaitu roja’, dengan roja’ seseorang akan mempunyai semangat dalam melakukan ketaatan, dan merasa ringan dalam menanggung berbagai kesulitan dan kesusahan.

“cinta kepada apa yang diharapkannya, takut harapannya hilang dan berusaha untuk mencapai apa yang di harapkannya” (Ibnul Qayyim).

Dengan harapan kita akhirnya masuk ke wilayah jalan hidup, kenapa dikatakan jalan hidup? Karena ia harus ditempuh, kesanalah kamu menuju, ada tujuan berarti ada harapan, kamu mau berjalan berarti kamu mempunyai rasa optimis, harapan itu sesuatu yg keesokannya kamu yakin akan baik, yang akan kamu kejar, dan harapan dapat berubah sepanjang waktu.

Obatnya segala penyakit di dunia ini hanya satu, yaitu harapan. Selama masih ada harapan sejauh itu pula segala kesulitan akan bisa diatasi. Fithrahnya manusia mempunyai harapan, manusia yang tanpa harapan, berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya.

Lahirnya harapan karena kebutuhan, karena manusia ingin survive (bertahan), ingin aman, ingin mencinta dan dicintai, kebutuhan status, kebutuhan aktualisasi diri, dari hal-hal itu muncullah harapan-harapan, harusnya secara kodrat manusia itu berharap.

Harapan adalah sebuah anugrah, bersyukurlah kalian yang masih mempunyai harapan, banyak orang yang mengharap saja susah, atau ia susah untuk merancang harapan yang cocok untuknya, di surah yusuf ayat 87 yaitu

… jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.

orang yang berputus asa tergolong orang kafir, Allah sangat membencinya, orang berputus asa berarti ia putus harapan, dan orang kafir itu adalah orang menutupi kebenaran.

Kalian dapat menuju artikel di bawah ini jika ingin mengetahui sejarah awal filsafat.

Sekian dulu ya pembahasannya, semoga dengan artikel ini kalian bisa mendapat manfaat dari apa yang aku tuliskan. Bila teman-teman rasa postingan ini bermanfaat, berikan aku “claps” ya, agar aku lebih bersemangat lagi untuk menuliskan pembelajaranku mengenai banyak hal.

Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca artikel ini.

--

--

--

Data Science Enthusiast, Remote Worker, Course Trainer, Archery Coach, Psychology and Philosophy Student

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Desi Ratna Ningsih

Desi Ratna Ningsih

Data Science Enthusiast, Remote Worker, Course Trainer, Archery Coach, Psychology and Philosophy Student

More from Medium

THANKFUL FOR MOTHER NATURE

Animals Part 3

Last Post